Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2015

Inspeksi Pipa Boiler

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 09.30
Banyak industri proses yang tergantung dengan Boiler sebagai penghasil energi (berupa uap panas), sebagai contoh pada Pabrik Pupuk, Industri Makanan, Industri Kertas, dan Industri Kimia lainnya. Dalam proses, kegagalan pada satu bagian dapat menyebabkan semua sistem terhenti secara total dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Sehingga, diusahakan seminimal mungkin terjadi shutdown pada bagian proses akibat dari kegagalan mesin. Ada banyak pendekatan untuk mengurangi kegagalan yang terjadi. Diantaranya dengan metode FMEA (Failure Method and Effect Analysis), RBI (Risk Based Inspection). Penerapan Tools statistik juga sangat membantu untuk memberikan data yang akurat terhadap kejadian - kejadian penting yang mengarah pada kegagalan. Sebagai contoh, data failure dengan metode Overall Equipment Efficiencies yang merupakan best practice dari sistem Total Productive Maintenance. Paket data tersebut kemudian diolah dengan banyak metode seperti pada tools konsep Six Sigma. Sesuai dengan kebutuhan aplikasi dan keakuratan yang diperlukan. 

Banyak metode yang digunakan dalam praktiknya untuk mendapatkan kualitas inspeksi yang baik. Namun, yang paling utama, semua bagian dalam metode yang diaplikasikan harus benar - benar dilakukan dengan komitmen tinggi. Baik itu melibatkan organisasi secara langsung maupun vendor atau kontraktor dan konsultan. Berikut contoh khusus inspeksi yang dilakukan pada perpipaan. 

  • Ekspansi
  • Rangka pendukung yang cukup
  • Tidak ada kebocoran
  • Koneksi yang benar. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah ada perubahan posisi karena adanya tegangan pada pipa atau sambungan yang lain.
  • Spesifikasi yang cocok untuk kondisi operasi
  • Tidak ada fakta-fakta korosi, erosi, atau retak
Contoh dari item inspeksi pada gambar adalah pekerjaan yang membutuhkan bantuan alat - alat laboratorium (DT) yang tidak dapat dilakukan secara langsung di lapangan (NDT). Akan ada banyak item pengujian seperti ini yang dapat membantu pengamatan terhadap tanda - tanda kegagalan yang disebutkan pada proses inspeksi. 

Pengujian Pada Pipa Boiler di IP Suralaya


    

Kamis, 02 April 2015


Oleh: Adityo Nugroho
Istilah Sea Power pertama kali muncul di akhir abad 19 oleh Rear Admiral Alfred Thayer Mahan dalam bukunya The Influence of Sea Power Upon History, hal.1660-1783. Dalam membangun sebuah negara yang memiliki kekuatan Angkatan Laut yang besar, menurut Mahan diperlukan 6 (enam) elemen pokok yang akan menjadi modal utama, yaitu: letak geografi (geographical position), bangun muka bumi (physical conformation), luas wilayah (extent of territory), karakter masyarakat (character of the people), jumlah penduduk (number of population) dan, karakter pemerintahan (character of government).
Elemen-elemen ini bersifat universal dan tanpa batas waktu (universal and timeless in character). Posisi geografis disebut sebagai kondisi yang paling signifikan. Dalam menjelaskan teorinya yang menggunakan contoh-contoh dari perang antara Inggris vs Belanda pada akhir abad 17 dan perang Inggris vs Perancis pada abad 18. A.T Mahan mencatat, bahwa kejadian-kejadian di laut sangat mempengaruhi kejadian-kejadian di darat.
Namun sering kali keputusan-keputusan politik yang diambil berdasarkan kejadian-kejadian di darat, jarang mempertimbangkan aspek kemaritiman. A.T Mahan menggaris-bawahi, bahwa Sea Power atau Kekuatan Laut merupakan unsur yang sangat penting bagi kejayaan suatu bangsa. Sebaliknya bila kekuatan-kekuatan di laut kurang diberdayakan, akan berakibat sangat merugikan negara atau meruntuhkan bangsa tersebut. A.T. Mahan menyatakan, bahwa Kekuatan Laut adalah: “All that tends to make a people great upon the sea or by sea”.
Contohnya adalah saat kebangkitan kekuatan laut Inggris (British sea power) di masanya. Secara ideal Inggris terletak di persimpangan jalur perdagangan Eropa. Bangsa Inggris mampu memanfaatkan dan mengamankan jalur perdagangannya dari penggunaan laut oleh pihak lawan. Selain daripada itu, posisi geografis Inggris, memberikan proteksi alami dari invasi musuh dan tidak mengharuskan Inggris memiliki kekuatan Angkatan Darat yang besar.
Dari contoh kebangkitan kekuatan laut Inggris tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa keuntungan posisi geografis tidak akan terlihat dominan bila sebuah bangsa tidak memiliki garis pantai yang cukup untuk membangun pelabuhan-pelabuhan, tidak memiliki sumber daya alam yang memadai, dan tidak didukung oleh iklim/cuaca yang baik.
Lebih jauh, menurut Mahan, extent of territory dan number of population memiliki ketergantungan antara satu dengan yang lain. Pelabuhan dan garis pantai yang panjang oleh suatu bangsa bukan hanya dapat digunakan untuk kepentingan perdagangan namun dapat pula digunakan musuh untuk melakukan penetrasi ke dalam negara tersebut. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut suatu negara harus mempunyai angkatan laut yang kuat dan memiliki hubungan perdagangan yang menguntungkan dengan negara-negara lain untuk dapat mencapai postur kekuatan laut yang diharapkan.
Di samping hal tersebut cara pandang serta wawasan kelautan dari masyarakat merupakan sumber kekuatan maritim dan kesejahteraan bangsa. Kemampuan pemerintah dalam melaksanakan diplomasi dan mempengaruhi negara lain memiliki peran yang sangat signifikan dalam melakukan dominasi wilayah lautnya.
Buku “The Influence of Sea Power Upon History”, itu dinilai penting karena buku ini menggambarkan pemikiran Mahan untuk mencapai kekuatan nasional (national power), serta menjelaskan bagaimana cara mengerahkan Sea Power untuk menghadapi musuh. Apa yang dimaksud dengan Sea Power atau Kekuatan Laut, pada dasarnya identik dengan Kekuatan Maritim atau Maritime Power. Apabila kekuatan-kekuatan itu diberdayakan, maka akan meningkatkan Kesejahteraan dan Keamanan Negara.
Disamping hal tersebut, Rear Admiral A.T Mahan menyatakan bahwa “keunggulan Angkatan Laut adalah keperluan utama untuk menjadikan negara besar, kuat dan maju”. Pelaku operasi pertahanan negara di laut terdiri dari beberapa instansi dengan AL sebagai inti kekuatan. Kekuatan laut terdiri dari Armada Niaga, Angkatan Laut dan Pangkalan.
Selain dari pada itu laut adalah satu kesatuan (The Sea is all One) artinya bahwa laut tidak dapat dipagari, diduduki dan dipertahankan seperti daratan. Sehingga strategi maritim merupakan penguasaan di laut, yaitu dengan menjamin penggunaan laut untuk kepentingan sendiri serta menutup peluang bagi lawan untuk menggunakannya. Mahan mengikuti pendekatan Baron Antoine de Jomini yang menekankan pentingnya lines of communication, konsentrasi kekuatan, dan daya serang untuk menghancurkan kekuatan armada musuh.

Rabu, 01 April 2015


Semarang, JMOL – Indonesia akan mengembangkan Laboratorium Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Serpong, Provinsi Banten. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, di sela kunjungannya di Universitas Negeri Semarang.
“Di Serpong (laboratorium PLTN, red) ini sudah DED (detail engineering design), uji tapak sudah, visibilitas juga sudah. Pada 2016 mendatang, sudah mulai pembangunan,” kata Nasir, Senin (30/3). Pembangunan laboratorium PLTN di Serpong, menurut dia untuk memberikan edukasi dan tahap awal pemahaman terhadap masyarakat akan pentingnya tenaga nuklir sebagai energi alternatif yang aman dan efisien.
“Kami ingin berinovasi melalui laboratorium PLTN untuk memberikan edukasi pada masyarakat. Ini sudah masuk anggaran. Harapannya, bisa memberikan pemahaman bahwa nuklir itu aman dan efisien,” papar dia.
Jika ada penolakan dari masyarakat, dikatakan Nasir, ia mengaku siap menjelaskan kepada masyarakat bahwa nuklir sudah menjadi kebutuhan pokok negara-negara lainnya. Tidak hanya negara maju, tetapi juga negara berkembang. “Nuklir sudah menjadi kebutuhan pokok dunia, bukan hanya Indonesia. Bangladesh sudah membangun, Vietnam juga sudah. Kalau kita tidak cepat, Indonesia akan jadi negara terbelakang.”
Ia menjelaskan, nuklir bisa menjadi sumber energi alternatif yang aman dan efisien bagi masyarakat. Apalagi, menurut dia, di tengah naiknya harga bahan bakar minyak sebagai energi yang bersumber dari fosil.
Nasir menegaskan akan akan segera berkoordinasi dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian PPN/Bappenas untuk meninjau ulang lokasi di Bangka Belitung dan Jepara. “Kami akan berkoordinasi dengan Menteri ESDM dan Bappenas untuk mengecek di Babel dan Jepara. Yang di Jepara, kami akan berkoordinasi dengan gubernur untuk sosialisasi pada masyarakat,” pungkas Nasir.[ANDRI]

Selasa, 31 Maret 2015



Jakarta, EnergiToday -- Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sulawesi Tenggara, menyatakan kinerja sektor tambang dan industri olahan mendorong peningkatan ekonomi di daerah itu pada triwulan pertama tahun 2015.

Kepala Perwakilan BI Wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra), Dian Nugraha, di Kendari, seperti dilaporkan Antaranews mengatakan, dengan meningkatnya produksi hasil pertambangan berupa nikel dan peningkatan industri olahan makanan tepung terigu di daerah itu, berdampak pada perningkatan kinerja ekonomi setempat.

"Meningkatnya hasil pertambangan ini juga disebabkan oleh mulai beroperasinya beberapa smelter yang ada selain itu juga dipengaruhi oleh peningkatan dan penambahan produksi PT Antam," ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan produksi sektor pertambangan tersebut juga berdampak pada membaiknya kinerja ekspor khusunya komoditas nikel olahan. (hs/an)

Minggu, 29 Maret 2015


Jakarta, EnergiToday -- Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Permen­dag No 04/M-DAG/PER/1/2015 tentang kewajiban meng­gunakan Letter of Credit (L/C) bagi ekspor produk pertam­bangan, minyak dan gas bumi (migas), minyak sawit men­­tah (CPO), serta batu bara mulai 1 April 2015.

"Penjualan migas itu, pertama pembelinya sedikit, kedua mereka pembeli dalam jangka panjang yang selama ini terbukti bonafit, ketiga dari sisi keamanan seluruh transaksi migas dicatat berlipat-lipat dan berlapis-lapis. SKK Migas catat, Bank Indonesia catat juga, Bea Cukai juga, seluruhnya secara kontrol sudah sangat aman," ungkap Menteri ESDM, Sudirman Said, seperti dikutip dalam Bisnis.com, Sabtu (28/3).


Sudirman mengatakan, Kementerian ESDM akan me­minta izin untuk ada pengecualian bagi penjualan atau ekspor migas. (id/bc)

Jumat, 27 Februari 2015


Jakarta, EnergiToday -- Industri baja Indonesia sedang diambang kebangkrutan. Untuk itu, pemerintah perlu mengambil langkah menanggapi hal tersebut.

"Bahwa industri baja kita, kalau dibilang cukup sekarat, ambil langkah industri dalam negeri. Perlu masih pendalaman beberapa kebijakan," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin saat ditemui di Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian, Jakarta, seperti dikutip dalamKabar Energi.com, Senin (23/2).
Dia mengatakan, perlu ada kajian agar industri baja dapat tumbuh sehat. Sehingga pihaknya akan mengusulkan tarif bea masuk sebesar 15%. Menurut dia, selama ini ada beban yang sangat tinggi dari sektor energi. Hal inilah yang kerap menjadi keluhan para pelaku industri.

Sebelumnya, Saleh Husin dan Menko Perekonomian Sofyan Djalil telah melakukan rapat koordinasi (rakor) terkait hal tersebut. Namun, kesemuanya masih perlu dikaji lebih dalam lagi. (wy/ke)

Kamis, 26 Februari 2015

Mengukur ketebalan pipa di dalam tanah dengan metode LRUT

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 11.30
Dari penerapan metode UT, dasar teknologinya adalah memanfaatkan perbedaan kerambatan sinyal ultrasonik terhadap suatu substrat/material. Apakah mungkin, menerapkan metode UT untuk memperoleh citra objek di dalam permukaan tanah. Sebagai contoh, pipa yang ditanam di bawah permukaan. Tentu kita tidak sedang berbicara tentang bagaimana mendeteksi suatu objek tak diketahui di dalam tanah sebgaimana dilakukan oleh para arkeolog. Karena akan banyak hambatan untuk menggunakan sinyal ultrasonik; baik karena sulitnya melakukan coupling antara transmitter/sensor dan media perambatan, kecepatan rambat sinyal yang berbeda tergantung jenis tanah, dan tentu sinyal echo dengan intensitas tinggi sebagai akibat dari hambatan - hambatan tersebut. Akan lebih mudah jika digunakan metode Ground-pentrating Radar (GPR) yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik pada frekuensi UHF/VHF daripada metode UT. 

Aplikasi metode RBI, telah memberikan kontribusi yang luar biasa dalam menekan beberapa pekerjaan yang yang tidak perlu. Sehingga biaya operasional dapat ditekan, yaitu dengan menitik-beratkan inspeksi pada daerah kritis pada jaringan pipa. Metode UT sederhana tidak disarankan untuk proses inspeksi pipa di dalam permukaan tanah. Tetapi digunakan Guided Waves; sinyal ultrasonik dengan frkuensi di bawah 100 kHz yang dirambatkan pada objek mengikuti dimensi ketebalan. Pada titik/daerah kritis yang telah dipilih, inspkesi dilakukan seperti ditunjukkan pada gambar berikut. Gambar a mununjukkan kerja metode UT sederhana dan Gambar b sebagai ilustrasi metode Long Range UT (LRUT). 


Sebuah transduser array dipasang dengan sistem pneumatik/mekanikal pada pipa dalam kondisi kering. Sinyal dirambatkan dengan metode pulse-echo, dari transducer tersebut secara bersamaan dengan sinyal balik yang diterima oleh transducer baik karena batas ujung/dinding material atau karena cacat. Perambatan dapat dilakukan sampai 100 meter (50 - 50 meter) untuk pipa dengan kondisi baik dan tidak banyak variasi geometri (perubahan arah, lubang drain, valve, ventilasi, dll), dan turun menjadi 20 meter untuk pipa yang sudah sangat berkarat. Dengan metode ini, dapat dideteksi cacat sebesar 5% dari luasan atau untuk pipa dengan tipikal dimensi seragam antara 1 - 5% dari luasan area. Selain menggunakan transduser array, beberapa LRUT juga menggunakan transduser dari material jenis piezoelektrik atau magnetostrictive.

Ilustri pemasangan transducer array
  Sejarah penggunaan LRUT awalnya untuk mengukur korosi yang terjadi di bawah permukaan terinsulasi pada aplikasi pabrik petrokimia. Yang kemudian digunakan secara luas untuk inspeksi pipa yang sulit dijangkau dengan menggunakan UT sederhana. Dari hasil analisa LRUT, selanjutnya dapat dihitung RLA (Remaining Life Assessment) berdasarkan standard APIRP574 atau ASME B31.3. Contoh hasil analisa data inspeksi LRUT dapat dilihat pada ilustri di bawah. Kelemahan dari LRUT berhubungan dengan jenis material yang menutupi objek, terutama material yang cenderung attenuative. Sebagai contoh jika pipa dilapisi material coating jenis bitumen/aspal. Selain itu, untuk geometri yang cenderung tidak uniform juga akan menyulitkan analisa data hasil inspeksi. Sehingga dibutuhkan operator yang ahli untuk melakukan inspeksi dengan LRUT. diadaptasi dari www.ndt.net

Rabu, 25 Februari 2015


Jakarta, EnergiToday -- Pemerintah akan memberikan insentif bagi perusahaan tambang yang akan mengembangkan pabrik pemurnian dan pengolahan konsentrat atau smelter tembaga nasional. Insentif tersebut berupa izin ekspor hingga pajak.

Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, R Sukhyar mengatakan pihaknya akan merevisi Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2014 tentang kriteria Peningkatan nilai Tambah Material. Nantinya, Kata dia, perusahaan tambang dapat mengekspor bijih mineral asal memiliki smelter atau berencana bangun smelter hingga 2017.

Selain itu, ada dua pilihan insentif pajak yang akan diberikan yakni peluang tax holidayatau tax allowance. "Ini masih dalam tahap pembahasan," ujar R. Sukhyar seperti dilaporkan Harian Republika, Senin (23/2). Sebelumnya, pemerintah berencana membangun smelter tembaga nasional yang melibatkan empat Kontrak Karya (KK) dan 68 pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Rapat pembahasan mengenai smelter tersebut digelar dengan empat pemegang KK pada Jumat (20/2) di Ditjen Minerba Kementerian ESDM. Hingga rapat tersebut berakhir, pembahasan teknis pembangunan smelter belum menemui titik temu. (fd/hr)

Senin, 23 Februari 2015

Seperti telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya, langkah untuk menghitung kebutuhan suplai air adalah menentukan Performa Pemanasan. Antara lain sebagai berikut:

1. Desainer harus mempertimbangkan permintaan normal ketika memilih pemanas, termasuk permintaan sekali waktu yang mungkin mempengaruhi proses pemanasan ulang dari suatu sistem. Pertimbangkan kondisi berikut sebagai acuan;
a) Jika temperatur tetap adalah penting, naikkan nilai kapasitas normal atau pilih pemanas dengan kapasitas besar. Dengan asumsi efisiensi dari pemanas kurang dari 10% dan penurunan temperatur 1 ˚C dapat diterima.
b) Jika volume tetap adalah penting, naikkan ukuran tangki agar tersedia cukup air panas secara instan.

2. Periode permintaan harus dipertimbangkan dari kebutuhan saat puncaknya. Antara lain yang perlu dipertimbangkan;
a) Pilih kapasitas normal maksimum dan kapasitas cadangan minimum, jika periode permintaan lebih lama dari 3 atau 4 jam. Sehingga kapasitas cadangan yang ada didesain untuk mampu menyediakan cukup air panas pada periode puncak.
b) Pilih kapasitas normal minimum dan kapasitas cadangan maksimum, jika periode permintaan kurang dari 3 atau 4 jam sehingga dapat dipastikan pemanas mampu memanaskan seluruh isi tangki sebelum permintaan berikutnya.

Contoh:
Suatu Pemanas Air mempunyai tangki 350 liter dengan efisiensi 70% dipilih dalam sebuah sistem dengan periode permintaan 1 jam dan periode permintaan 8 jam. Kapasitas normal pemanas 0.65 m³/jam (temperatur 35 ˚C), memberikan; (Lihat ilustrasi)


Setelah kita mengetahui performa pemanasan yang diinginkan, berikut beberapa langkah untuk memilih peralatan sesuai dengan kapasitas kebutuhan. Didalam sistem pemanasan air, konsep utamanya adalah untuk selalu merujuk Normalisasi (recovery) dan Permintaan. Normalisasi adalah Performansi Pemanas dan Permintaan adalah Performansi dari Tangki Cadangan.

1) Tabel. 1 menunjukkan contoh kapasitas pemanas untuk menaikkan temperatur air beberapa derajad. Data tersebut diberikan oleh Pembuat beserta data efisiensi dari peralatan pemanas air.


2) Tangki Cadangan terdiri dari campuran air dingin dan air panas, proses pemanasan yang terjadi tergantung dari efisiensi tangki, dan kehilangan panas terhadap lingkungan dipenuhi kembali. Akan tetapi, air panas dari recovery/pemanas tidak akan diperoleh pada tangki cadangan sebelum kebutuhan permintaan telah dipenuhi.


Jika efisiensi tangki tidak diketahui, desainer dapat menggunakan nilai 70% (penurunan temperatur 2 ˚C dapat diterima) atau nilai 60% (temperatur yang lebih presisi). Dan pada akhirnya, temperatur normal (recovery) harus diatur agar lebih tinggi dari temperatur pada pengguna akhir (pertimbangkan juga penurunan temperatur pada tangki cadangan). Lihat Gambar. 1 untuk ide umumnya. Jumlah air panas siap pakai, efisiensi tangki cadangan, dan ukuran tangki yang dipilih, diperlihatkan pada rumus berikut;

Ukuran Tangki = Jumlah Air Panas Siap pakai : Efisiensi Tangki Cadangan

Catatan:
Tiap penurunan temperatur pada instalasi juga harus menjadi pertimbangan.

diadaptasi dari PVI dan AO Smith.

Kamis, 12 Februari 2015


Jumlah potensi permintaan air panas yang dihitung dari sistem air panas, digunakan untuk menentukan desain suplai air panas saat memilih water heater (pemanas). Perkiraan tersebut juga termasuk kebutuhan tambahan yang mungkin ada saat kondisi tidak biasa, terhadap pemakaian air panas. Kemudian semua kebutuhan yang
telah direncanakan dimasukkan dalam profil operasi, pada periode permintaan dan periode normalisasi (recovery).

Kebutuhan tambahan terhadap air panas selama periode permintaan dan normalisasi ditentukan untuk menghitung kapasitas tangki cadangan dan/ kapasitas normal. Sehingga setelah periode puncak, sejumlah tertentu air panas masih tersedia, untuk permintaan air panas saat itu juga.

Ilustrasi profil operasi biasanya terlihat sebagai profil berselang dan profil kontinyu seperti pada gambar berikut. Walaupun sebenarnya profil operasi tersebut hanya didasarkan pada kondisi umum yang terjadi di lapangan. Gambar. 1 memperlihatkan pola permintaan normal dalam satu hari, yang dipisahkan dengan waktu normalisasi 8 dan 12 jam.

Profil tersebut menunjukkan bahwa antara permintaan sekali waktu dan permintaan terus menerus (periode permintaan dan normal) dipisahkan oleh selang waktu 3 atau 4 jam, yang mana yang lebih lama. Permintaan sekali waktu adalah periode dimana suplai hanya mengandalkan ukuran tangki untuk memenuhi permintaan air panas pada periode puncak. Jumlah permintaan inilah yang digunakan untuk menentukan ukuran tangki. 

Kapasitas normal dari pemanas ditunjukkan oleh periode permintaan terus menerus, memperlihatkan kemampuan pemanas untuk menyediakan air panas pada periode normal. Yang hanya dipenuhi dari kapasitas pemanas. Gambar. 2 menggambarkan kerja langsung dua shift sehari untuk keperluan sebuah industri pemrosesan. Jika ditentukan laju alir maksimum 0.8 m³/h digunakan dalam sistem suplai air panas, pada periode normal pemanas harus mampu menyediakan cukup suplai air panas secara instan. Ini artinya semua suplai pada periode permintaan dipenuhi dari tangki cadangan, dan dipastikan pemanas mampu membantu suplai permintaan yang tidak biasa.

diadaptasi dari PVI dan AO Smith.

Minggu, 01 Februari 2015

Senin, 06 April 2015 Jakarta.

Afrika Selatan berkeinginan untuk melakukan kerjasama dibidang pertahanan secara lebih dekat lagi dengan Indonesia atas dasar kesamaan. Kesamaan kedua negara itu baik sisi sejarah, kultur budaya serta kekuatan ekonomi dan kekuatan militer terbesar yang ada di wilayah Afrika dan di Asia Tenggara.
Demikian dikatakan Dubes Afrika Selatan untuk Indonesia, PA. Sifuba, Kamis (2/4) di Kantor Kemhan, Jakarta saat melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu
Dubes menuturkan, terlebih lagi kerjasama pertahanan RI dan Afrika Selatan telah didasari oleh penandatanganan MoU yang dilakukan pada tahun 2008 lalu. Kerjasama berjalan dari waktu ke waktu dan ditandai saling kunjungan beberapa pejabat pertahanan dan kelompok industri pertahanan dari kedua negara.
Menurut Dubes Sifuba, Afrika Selatan memiliki kompetensi di bidang industri pertahanan yang kuat dan modern serta menghasilkan produk militer yang baik. “Beberapa negara di Afrika dan Timur Tengah juga sudah menggunakan, serta termasuk untuk membantu Indonesia dalam kepentingan misi perdamaian PBB,” Kata Dubes Afrika Selatan yang bertugas di Indonesia sejak awal 2014 tersebut.
Disela-sela perbincangan, Dubes memberikan apresiasi kepada kebijakan pertahanan yang dikeluarkan Menhan salah satunya mengenai strategi untuk memperkuat poros maritim di wilayah Indonesia. Sehubungan dengan itu menurut Dubes, Afrika Selatan memiliki pengalaman yang cukup baik dan industri kemaritiman yang cukup kuat, oleh dasar itu pihak Afrika Selatan ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan Indonesia.
Pada kesempatan pertemuan tersebut Dubes Sifuba menyampaikan kepada Menhan, bahwa Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma direncanakan akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia dan ikut hadir dalam Konfrensi Asia Afrika ke-60 yang diselenggarakan pada tanggal 19-24 April 2015 di Jakarta dan di Bandung. Saat kunjungan kenegaraannya Presiden Afrika Selatan juga menginginkan berkunjung ke beberapa industri peralatan militer di Indonesia. kunjungan ini dimaksudkan untuk mencari peluang dalam meningkatkan hubungan kerjasama pertahanan kedua negara.
Sementara Menteri Pertahanan Afrika Selatan Nosiviwe Naluthando Mapisa-Nqakula yang akan mendampingi Presiden Afrika Selatan juga direncanakan akan melakukan kunjungan kehormatan kepada Menhan RI. Pertemuan antar Menhan tersebut digunakan untuk membahas masalah-masalah yang menyangkut kepentingan bersama guna memperkuat hubungan bilateral pemerintah Afrika Selatan dan Indonesia.
Sementara itu Menhan RI Ryamizard Ryacudu merespon sangat baik atas rencana kunjungan Menhan Afrika Selatan ke Indonesia tersebut. Pihaknya akan menjadwalkan pertemuan kedua Menhan serta menyusun bahan pembahasan yang akan dibicarakan saat kunjungan Menhan Afrika Selatan nanti. Menhan, Ryamizard Ryacudu berharap pertemuan tersebut dapat berjalan dengan baik.

Jumat, 30 Januari 2015


Jakarta, EnergiToday -- Pemerintah tidak mempunyai ketegasan dalam menghadapi PT Freeport yang ditunjukkan melalui perpanjangan kerja sama dengan perusahaan tersebut.

Ekonom dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, Ahmad Erani Yustika mengatakan perpanjangan kontrak kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan PT Freeport untuk durasi enam bulan ke depan seharusnya tak perlu dilakukan karena banyak hal yang diingkari oleh perusahaan asing yang mengeksplorasi tambang emas di Papua ini.

Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UB itu mengatakan hingga saat ini PT Freeport belum juga membangun smelter di Papua, padahal kewajiban itu seharusnya sudah direalisasikan sejak lima tahun lalu.

Di bidang perminyakan saja, puluhan perusahaan yang tidak taat aturan, belum lagi perusahaan besar dan kecil yang bergerak di bidang sumber daya alam lainnya, seperti batubara, gas, alumunium, dan timah. Oleh karena itu, ia menginginkan pemerintah atau pihak manapun tidak sampai melakukan pelemahan terhadap fungsi para penegak hukum, termasuk lembaga khusus yang menangani korupsi, yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Selain itu, perusahaan tersebut harus bertanggung jawab terhadap pembangunan industri di Papua, yakni membangun industri hilir berbasis tembaga karena lebih mudah ketimbang PT Freeport membangun smelter," tutur Ahmad, seperti dikutip dalam Analisadaily.com, Rabu (28/01). (id/ad)

Kamis, 30 Oktober 2014

sumber: livemint.com

Pelaksanaan ekspor batubara dan produk batubara mulaitanggal 1 Oktober 2014 hanya dapat dilakukan oleh perusahaan setelah mendapatkan pengakuan sebagai Eksportir Terdaftar Batubara (ET-Batubara) dari Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian PerdaganganberdasarkanPeraturan Menteri Perdagangan Nomor 49 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 39 Tahun 2014 tentang Ketentuan Ekspor Batubara dan Produk Batubara. Untuk mendapatkan pengakuan sebagai ET-Batubara perusahaan harus mengajukan permohonan. Salah satu persyaratan permohonan adalah Rekomendasi ET-Batubara dari Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM. Untuk menindaklanjuti ketentuan persyaratan Rekomendasi ET-Batubara sebagaimanadiatur dalam Pasal 4 ayat (1) huruf d Peraturan Menteri PerdaganganNomor 39 Tahun 2014 maka Dirjen Minerba pada tanggal 12 Agustus 2014 menetapkan Peraturan Dirjen Minerba Nomor 714 Tahun 2014 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pemberian Rekomendasi Eksportir Terdaftar Batubara. 

Beberapa hal penting dalam Peraturan Dirjen Minerba ini adalah sebagai berikut: 
  1. Pemegang IUP Operasi Produksi Batubara, IUPK Operasi Produksi Batubara, IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian Batubara, IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan Batubara, atau PKP2B dapat melakukan penjualan ke luar negeri (ekspor) batubara setelah mendapatkan pengakuan sebagai ET-Batubara dari Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri. 
  2. Sebelum mendapatkan pengakuan sebagai ET-Batubara wajib mendapatkan Rekomendasi ET-Batubara dari Direktur Jenderal Mineral dan Batubara. 
  3. Permohonan Rekomendasi untuk mendapatkan pengakuan sebagai ET-Batubara diajukan kepada DirjenMinerba dengan melampirkan persyaratan: 
    • salinan Sertifikat clear and clean dan salinan IUP Operasi Produksi bagi pemegang IUP Operasi Produksi Batubara; salinan IUPK Operasi Produksi Batubara; salinan IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian Batubara; salinan IUP Operasi Produksi khusus Pengangkutan dan Penjualan Batubara;atau salinan Keputusan Menteri ESDM Tahap Operasi Produksi bagi PKP2B; 
    • salinan surat persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB)tahun berjalan dari pemberi izin sesuai dengan kewenangannya dengan menunjukkan dokumen asli pada saat pengajuan permohonan; 
    • salinan bukti pelunasan pembayaran kewajiban penerimaan negara bukan pajak periode pembayaran sebelumnya; dan 
    • surat pernyataan bermaterai mengenai kebenaran dokumen dan kesediaan membayar iuran produksi/DHPB pada titik jual di FOB barge/vessel sebelum diangkut lintas kabupaten/kota/provinsi/negara. 
  4. RKAB bagi pemegang IUP Operasi Produksi khusus untuk Pengolahan dan/atau Pemurnian Batubara atau IUP Operasi Produksi khusus Pengangkutan dan Penjualan Batubara termasuk RKAB pemegang IUP Operasi Produksi/IUPK Operasi Produksi/PKP2B asal batubara/produk batubara. 
  5. Dirjen Minerba melakukan evaluasi terhadap permohonan Rekomendasi untuk mendapatkan pengakuan sebagaiET-Batubara.
  6. Rekomendasi pengakuan sebagai ET-Batubara berlaku selama 3 tahun.
  7. Dirjen Minerba melakukan evaluasi terhadap pemegang IUP Operasi Produksi, IUPK Operasi Produksi, IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan/atau pemurnian, IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan, atau PKP2B yang telah mendapatkan ET-Batubara tiap tahun.(Parlin Sitinjak)

Selasa, 14 Januari 2014

Pelatihan Ketrampilan UTR | PT Indonesia Power UB PLTU Suralaya

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 15.10

16 - 19 Desember 2013, Hotel Ruba Grha, Yogyakarta.

Metode Uji Tak Rusak sudah sangat dikenal handal untuk melakukan inspeksi dan luas dalam aplikasi. Memahami kebutuhan perusahaan akan ahli UTR, PT Indonesia Power UB PLTU Suralaya berinisiatif untuk memberikan ketrampilan UTR tersebut kepada personel di UB PLTU Suralaya. Diharapkan, pelatihan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan peserta training tentang metoda UTR (NDT) serta aplikasinya dalam mengevaluasi keselamatan sistem instalasi pembangkit listrik tenaga uap.
Urgensi ketrampilan bagi personel mendorong PT Indonesia Power UB PLTU Suralaya menargetkan peserta training mampu mengaplikasikan metoda-metoda UTR untuk mengevaluasi integritas struktur komponen Pembangkit Listrik Tenaga Uap sehingga keberlangsungan operasi pembangkit daya dapat berjalan lebih optimal. 
Materi pelatihan utamanya akan menyampaikan secara garis besar metode pengujian UTR serta dasar dasar metalurgi dengan diikuti oleh peragaan penggunaan alat serta cara membaca hasil pengujian UTR (Radiografi, Ultrasonik serta in situ metallography). Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta dapat mendapatkan gambaran cara mengevaluasi data hasil pengujian untuk mendukung analisis kegagalan material. Narasumber dalam training ini berasal dari para peneliti dan orang lapangan Badan Tenaga Nuklir Nasional.
Jadwal Kegiatan 2 hari pertama
Materi yang diberikan dalam Pelatihan:
1. Metalurgi Dasar
2. Pengenalan UTR
3. Materi UTR | Dye Penetrant (Praktek)
4. Materi UTR | UT (Pembacaan hasil test)
5. Materi UTR | Radiografi (Pembacaan hasil test)
6. Materi UTR | In Situ Metalografi (Pembacaan hasil test)
7. Materi UTR | Magnetic Test (Praktek)
8. Diskusi UTR | Studi Kasus UB PLTU Suralaya 



Rabu, 01 Januari 2014

Visual Testing | Apakah masih diperlukan?

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 05.36
http://www.laborelec.be/ENG/services/non-destructive-testing/

Dalam terminologi Uji Tak Rusak atau UTR, metode paling awal yang digunakan adalah Visual Testing. Pengamatan dengan mata telanjang untuk mengetahui tren cacat pada sample uji. Kemudian berkembang dengan kebutuhan pengujian yang meningkat, baik dengan kaca pembesar maupun Boroscope untuk menjangkau bagian dalam dan/atau sulit. Dengan pengujian ini, penguji dapat mengetahui cacat dan/atau diskontinuitas pada permukaan sample uji. Tentu perlakuan sebelum pengujian sangat penting, seperti surface preparation dengan larutan kimia, deburring, juga sandblasting atau metode abrasi lainnya.
Perkembangan ilmu analisa yang semakin preventif lalu mendorong perkembangan metode pengujian yang kita kenal sekarang ini. Alat yang digunakan juga semakin canggih dan mudah digunakan. Karena aplikasi metode UTR yang sangat mudah di lapangan, tidak memerlukan persiapan sample yang terlalu rumit, dan menghemat waktu, penggunaanya sangat variatif hampir di semua bidang industri.
Yang menarik, apakah kemudian visual testing ini ditinggalkan seiring dengan semakin berkembangnya teknologi? Tidak, bahkan metode ini kemudian menjadi penting dalam tiap kegiatan assessment untuk menentukan metode UTR yang tepat sesuai kebutuhan. Visual Testing dapat membantu mengetahui tren cacat atau diskontinuitas pada permukaan yang sangat mungkin menuntun pada cacat di bawah permukaan. Pemilihan metode UTR yang tepat tentu merupakan langkah penghematan yang murah. 

Senin, 16 Desember 2013

IMI Akan Terbangkan Flyingboat GEVER-OS Peringati Deklarasi Djuanda

HANYA RP1,5 MILIAR - Flyingboat GEVER-OS saat dipamerkan di Balai Kartini, Jakarta, Senin (14/10). (Foto: Merdeka)

Jakarta, JMOL – Memperingati Deklarasi Djuanda, Indonesia Maritime Institute (IMI) akan menerbangkan Scale Model Flyingboat GEVER-OS pada Rabu (18/12) pukul 08.00 pagi di Situ Gintung, Ciputat.
Ditulis dari rilis IMI kepada JMOL, Rabu (11/12), Flyingboat GEVER-OS adalah pesawat amfibi bersayap tetap, dilengkapi lambung yang memungkinkan pendaratan di air. Ia bisa mendarat, lepas landas, dan ‘berbaring’ di air, tanpa memerlukan landasan tanah.
Scale Model ini merupakan rangkaian pembuatan aircraft yang diterapkan dalam pembuatan GEVER-OS menuju pembuatan prototipe, yang akan diluncurkan April 2014.
Dalam bidang pertahanan, flying boat biasanya digunakan untuk patroli maritim dan misi penyelamatan udara-laut. Beberapa flying boat modern di dunia antara lain Shuihong 5 China, CL-415 Kanada, Beriev Be-200 Rusia, Catalina AS, ShinMaywa Jepang, dan Bavar 2 Iran. Umumnya bermuatan besar, namun tidak berkembang dengan baik.
Sebagai Negara Kepulauan, Indonesia membutuhkan alat transportasi yang penghubung antarpulau dalam waktu cepat dan tidak membutuhkan infrastruktur mahal.
IMI lantas membuat Flying Boat GEVER OS yang mampu bermanuver dan mendarat di air, serta mampu memuat lima orang, termasuk pilot. Ia bisa terbang hingga ketinggian 150 meter di atas permukaan laut.
Karya IMI ini diharapkan menjadi solusi peningkatan konektivitas dan pengawasan perairan Nusantara serta menjadi kebanggaan Indonesia.
Editor: Arif Giyanto

Minggu, 15 Desember 2013

Jaya Maritim | Dipublikasikan oleh jurnalmaritim.com

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 14.19

Jaya Maritim, Harapan Tokoh di Hari Nusantara 2013

LAUT UNTUK MASA DEPAN - Backdrop Diskusi Terbuka Bajo Networking Program di Pertamina Foundation, Simprug, Jakarta, beberapa waktu lalu. (Foto: Tinu Sicara)

Penulis: Tinu Sicara
Jakarta, JMOL**Semarak peringatan Hari Nusantara terus dirayakan setiap tahun. Perayaan peringatan digagas oleh Dewan Kelautan Indonesia (DEKIN), melibatkan berbagai kementerian dan lembaga pemerintah termasuk TNI Angkatan Laut dan Kepolisian. Lokasi penyelenggaraan pun berpindah dari satu provinsi ke provinsi lain.
Sekitar 13 kementerian mendapat giliran per tahun menjadi penanggung jawab peringatan Hari Nusantara, melalui audiensi. Kementerian dituntut untuk menyiapkan tema dan program yang berorientasi ke laut.
Namun, bagaimana realisasi dan dampak positifnya bagi kelautan Indonesia? Cukupkah dengan acara seremonial? Inilah yang banyak dipertanyakan kalangan, mulai dari organisasi mahasiswa, hingga sejarawan.
Setiap orang memiliki pandangan dan cara berbeda memperingati Hari Nusantara. Namun, yang jauh lebih penting, sedalam apa memaknai perjuangan Deklarasi Djuanda sebagai Proklamasi kedua NKRI? Apa yang seharusnya dilakukan bagi generasi muda? Mari kita simak beberapa pendapat mengenai peringatan Hari Nusantara.
Menurut sejarawan Tanah Air, Anhar Gonggong, saat ditemui JMOL di kediamannya, mengatakan, implementasi dari Deklarasi Djuanda janganlah menjadi momentum saja. Jangan bangga sudah diakui dunia sebagai Negara Kontinental. Kebanggan harus diwujudkan dalam maritim yang dapat dinikmati seluruh rakyat Indonesia.
“Seharusnya yang disosialisasikan adalah apa yang telah diimplementasikan selama ini. Bukan hanya upacara biasa saja, karena akan sia-sia dan menghabiskan uang. Alangkah lebih baiknya ditunjukkan apa yang telah dilakukan dan dinikmati oleh masyarakat. Bukan yang dinikmati oleh pemerintah,” ujar Anhar.
Saat ini, sambungnya, generasi muda dan penerus dituntut melaksanakan aturan isi Deklarasi Djuanda. Artinya, kreativitas perlu ditantang.
Sementara itu, Susanto Zuhdi, seorang sejarawan pula, berpendapat, bahwa peringatan adalah hal perlu. Tetapi yang sangat diperlukan adalah pembentukan karakter ke depan.
“Seperti mengajak seluruh komponen untuk terlibat. Jangan lupa bahwa nelayan-nelayan diikutsertakan, karena nelayan itu bagian dari kemaritiman. Jangan melupakan yang kecil-kecil. Karena, kehancuran terjadi justru karena mengabaikan yang kecil-kecil,” tegasnya.
Bagi Selamet Daroyni, Koordinator Pendidikan dan Penguatan Jaringan KIARA, peringatan Hari Nusantara tidak cukup dengan seremonial. Sebagai pegiat LSM, ia akan terus mengingatkan dan mempertanyakan Menteri Kelautan dan Perikanan untuk bersikap bijak dalam membuat kebijakan-kebijakan; bukan untuk menyengsarakan nelayan.
“Fungsi adanya kementerian dan Kelautan yang terlihat saat ini hanya untuk melegitimasi kegiatan reformasi penggusuran. Seharusnya merangkul semua masyarakat yang tergantung kepada sumber kelautan dan perikanan,” ucapnya.
Laut, Masa Depan Indonesia
Lebih lanjut, Susanto Zuhdi mengatakan, Indonesia harus diperjuangkan menjadi Negara Maritim. Indonesia jangan hanya berpangku tangan dan menjadi penonton. Karena, apabila itu terjadi maka laut Indonesia akan hanya dilewati oleh kapal-kapal asing dan direbut negara lain.
“Sebagai bangsa Indonesia, jangan lupakan lautan. Kita sudah terlalu banyak di daratan. Kita terlalu lama menjadi bangsa darat,” imbaunya.
Selain itu, bagi Zuhdi, Indonesia belum melibatkan nelayan sebagai ujung tombak. Padahal, nelayan setiap hari hidup di laut. Mereka wajib diberi sarana dan prasarana yang baik, seperti GPS, dan memberikan materi bela negara. Negara harus memberdayakan nelaya. Mereka adalah motor penggerak dan ujung tombak pertahanan paling depan.
“Semakin memperkuat pilar-pilar itu. Pelabuhan diperkuat, jaringan diperlancar, dan tidak perlu berperang. Pelabuhan sebagai pusat pertumbuhan daerah dibutuhkan, untuk ekspor atau paling tidak antarpulau,” paparnya.
Anhar Gonggong agak berbeda. Ia mengajak pemerintah untuk memikirkan bagaimana mengimplementasikan Deklarasi Djuanda dan UNCLOS 82. Dengan tidak mengabaikan bahwa darat itu penting dan memang tempat hidup, tetapi sebenarnya masa depan Indonesia ada di laut.
“Hingga kini, untuk fungsi dan peran tidak berjalan dengan baik. Adanya Kementerian Kelautan dan Perikanan saja tidak efisien, tanpa diiringi bermacam program yang lebih jelas untuk mengelola maritim,” kata Anhar.
Sebagai departemen yang dibentuk untuk menanungi permasalahan kelautan dan perikanan, menurut Anhar, KKP harus memperhatikan wilayah-wilayah dan masyarakat yang hidupnya dari maritim, serta memikirkan nasib nelayan untuk segmen warga negara yang paling miskin.
Editor: Arif Giyanto

Rabu, 17 Juli 2013

Gear, apakah fungsi utamanya?

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 13.24

Komponen mesin ini, gear, identik dengan sebutan roda gigi karena memang struktur utama dari gear adalah gigi - gigi dengan dimensi 3D yang sama satu sama lain. Gear adalah suatu elemen mesin bergerigi yang berputar berpasangan untuk meneruskan torsi [wikisearch]. Dalam pandangan awam, gambar diatas biasa disebut sebagai gear. Berbeda dengan definisis secara teknis yang mendefinisikan perangkat diatas sebagai pulley & belt system.

Karakter utama dari Gear adalah 2 atau lebih elemen mesin ini bekerja bersama, mesh dengan gigi untuk meneruskan torsi baik nominal maupun vektornya. Hal ini yang kemudian menjadi pilihan desain yang terus berkembang dan memunculkan desain roda gigi yang bervariasi sesuai dengan tujuan mekanis yang ingin dicapai.

 

Sabtu, 13 Juli 2013

ABSTRAK
Proses pengelasan pada hakekatnya adalah proses penyambungan yang memanfaatkan fenomena metalurgi. Karena itu permasalahan yang muncul di daerah sambungan adalah sebagai akibat dari fenomena tersebut. Permasalahan yang muncul dari fenomena metalurgi pada saat mengelas baja adalah timbulnya martensit yang diiringi dengan fissure sedangkan pada besi cor kelabu adalah timbulnya besi cor putih dan martensit.

PENDAHULUAN
Proses pengelasan yang melibatkan adanya pencairan di daerah sambungan, secara metalurgis akan menghasilkan tiga daerah seperti terlihat pada gambar berikut :

1. Daerah Logam Las 2. Daerah Fusi atau Dilusi 3. HAZ (Heat Affected Zone)
Pada daerah logam las (daerah 1) :
Terjadi proses pembekuan dari logam las (weld metal) atau logam pengsisi (filler metal). Fenomena pembekuan akan memunculkan struktur dendritik yang kasar diiringi dengan timbulnya segregasi sebagai akibat adanya laju pendinginan yang relatif cepat. Adanya pengkasaran ukuran butir dan segregasi di daerah logam las akan menurunkan sifat mekanik. Penurunan sifat mekanik yang terjadi jangan sampai melampaui sifat mekanik logam induk. Karena itu berdasarkan hal tsb dan mengingat menurut standar bagian logam las tidak diperkenankan untuk gagal, maka untuk mengkompensasi penurunan tsb dipilih kualitas mekanik logam las minimal 15% lebih tinggi dari sifat logam induk. Disamping itu pada saat logam las membeku (bertransformasi fasa) senantiasa diiringi dengan perubahan volume (dalam hal ini menyusut). Perubahan volume yang mengiringi transformasi fasa merupakan cikal bakal timbulnya destorsi pada sambungan las bahkan menjadi cikal bakal timbulnya retak (crack) baik retak yang timbul dengan segera maupun retak yang timbul berikutnya (delay crack) baik di logam las (1) maupun di daerah yang dipengaruhi panas (3)

Pada daerah 2 (daerah Fusi, yang kadang-kadang disebut juga sebagai dilusi) :
Terjadi pencampuran antara logam las dan logam induk. Pada prinsipnya di daerah ini terjadi proses pemaduan. Secara umum hasil dari suatu proses pemaduan dapat menghasilkan larutan padat, senyawa atau campuran antara larutan padat dan senyawa yang akan memberikan perbedaan terhadap sifat mekanik yang dimilikinya. Dalam praktek, keberadaan senyawa intermetalik yang getas sangat tidak diinginkan apabila terbentuk di batas butir namun akan berperan sangat penting dalam meningkatkan kekuatan logam apabila senyawa tsb muncul sebagai bagian dari fasa eutektik atau tersebar merata dalam bentuk partikel halus.

Pada daerah 3 (daerah yang dipengaruhi panas) :
Akan terjadi kombinasi antara pembentukan butir-butir yang kasar sebagai akibat terekpos pada suhu tinggi dengan timbulnya transformasi fasa, dari fasa padat ke fasa padat yang lain. Menurut Hall-Petch, pengkasaran butir akan menyebabkan kekuatan logam menurun sedangkan transformasi fasa yang terjadi di daerah tersebut juga akan diiringi dengan perubahan volume. fenomena metalurgi yang terjadi di daerah 3 menjadi sangat kompleks dengan adanya temperatur gradien. Secara umum di daerah ini terjadi proses perlakuan panas dengan segala macam aspek yang mempengaruhinya seperti tinggi dan lamanya temperatur pemanasan, laju pendinginan, termasuk ada atau tidaknya pre heat dan post heat dan jenis fasa yang akan dihasilkannya.

Perlu digarisbawahi bahwa ketiga daerah tersebut akan selalu muncul pada saat menerapkan proses pengelasan yang melibatkan adanya proses pencairan, baik pada saat mengelas logam yang sama (similar metal welding) maupun pada saat mengelas dua logam yang berbeda (dissimilar metal welding). Khusus pada saat mengelas dua jenis logam yang berbeda, aspek lain diluar fenomena metalurgi yang perlu dipertimbangkan adalah :

1. Apakah perbedaan koefisien muai akan ber-pengaruh terhadap umur sambungan ?
2. Apakah korosi galvanik akan menjadi masalah ?

Pada beberapa jenis baja paduan dan besi cor,keseluruhan aspek tsb diatas merupakan hal-hal yang patut menjadi perhatian yang cermat dan akurat agar hasil pengelasan yang dilakukan dapat menghasilkan sambungan yang baik dan memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan dalam WPS.

BEBERAPA CONTOH KASUS
Untuk menganalisis fenomena metalurgi seperti diuraikan diatas dapat dilihat pada contoh-contoh pengelasan berikut :
1. Mengelas baja Cr-Mo dengan baja tahan karat austenitik Pada industri petrokimia seringkali dijumpai baja CrMo, baik dari tipe ASTM A387 grade 11 (F11) maupun F12 (dissimilar) ; disambungkan dengan baja tahan karat austenitik atau baja F11 disambungkan dengan baja F11 (similar).
Lazimnya pada kedua pengelasan tersebut seringkali menggunakan logam pengisi dari jenis baja tahan karat austenitik atau dari jenis paduan Ni-Cr-Fe seperti paduan Incoloy 825 atau paduan Inconel 625. Dari tabel 1 dapat dilihat komposisi baja F11, baja tahan karat austenitik SAE 304L, Incoloy 825 dan Inconel 625 sebagai berikut :

Jadi apabila F11 disambungkan dengan SAE 304L ,misalnya menggunakan logam pengisi juga SAE 304L, maka di daerah Fusi di sisi F11 akan terjadi dilusi antara logam induk (F11) dengan logam pengisi (SAE 304L). Untuk membantu menganalisis apakah pemilihan logam las dari jenis baja tahan karat SAE 304L sudah tepat dan jenis fasa apa yang akan terjadi di daerah fusi di sisi F11 dapat digunakan diagram Schaeffler yang sudah dimodifikasi oleh Schneider seperti terlihat pada gambar 2
Dengan memperhitungkan %Ni.eq dan %Cr.eq dari kombinasi komposisi yang akan terjadi di daerah fusi dan menerapkannya pada diagram Schaeffler, tampak bahwa kombinasi komposisi F11 dan SAE 304L jatuh di daerah austenit. Jika hal seperti ini yang terjadi, maka pemilihan jenis logam las maupun logam pengisi sudah tepat. Yang harus dihindari adalah apabila kombinasi komposisi menghasilkan fasa Martensit. Keberadaan fasa martensit seringkali dikaitkan dengan masalah kegetasannya. Namun yang paling berbahaya dari keberadaan martensit adalah bahwa embentukannya kadang-kadang diikuti dengan munculnya retak rambut (fissure) yang seringkali sulit dideteksi dengan peralatan ultrasonic. Kalaupun terdeteksi seringkali dinyatakan sebagai minor defect.
Analisis berikutnya adalah fenomena yang terjadi di daerah HAZ terutama di daerah interface antara logam induk dengan logam cair. Jika Ni berdifusi, maka akibat adanya gradien kadar Ni maka kombinasi komposisi di daerah tersebut akan menghasilkan martensit. Untuk mengatasi hal tsb maka dilakukan proses pre heat yang besarnya harus diatas temperatur Ms dari kombinasi komposisi yang menghasilkan martensit. Kemungkinan timbulnya retak yang tertunda (delay crack), dapat juga di"ramal"kan dengan memperhitungkan suatu harga faktor yang dibuat oleh Miyano dalam bentuk persamaan sebagai berikut :
Miyano mengatakan bahwa besarnya faktor dari hasil perhitungan diatas kurang dari 200, maka tidak akan timbul retak. Namun apabila harganya diatas 200, maka pada suatu saat akan timbul retak. Patokannya adalah makin besar faktor tsb, kemunculan retak semakin dekat.
Persamaan ini telah diadopsi oleh API pada bagian pembahasan tentang RBI (Risk Base Inspection) denga menyebut persamaan ini sebagai J-factor, namun harganya diubah bukan 200, melainkan 100.


Seperti dipublikasin di website API dengan judul "Beberapa Kasus pada Pengelasan Baja''.

Jumat, 12 Juli 2013

Dye Penetrant Inspection | Preparasi sample

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 11.06
Penggunaan dye penetrant dalam inspeksi NDT dipengaruhi oleh gaya adhesi pada permukaan metal atau sample terhadap dye penetrant. Sehingga persiapan sebelum aplikasi dye penetrant sangat kritikal. Semua Coating atau lapisan pasif harus dihilangkan dari permukaan untuk membuka bagian cacat terhadap masuknya dye penetrant. Misalnya; Cat, Pernis, Lapisan logam (debris, flux, scale, plating) dan Lapisan oksida (rust, fluid) yang berpotensi menutup titik - titik cacat.
Substrat sebelum preparasi dilakukan
Aplikasi atau penggunaan sandblasting atau sanding harus dikontrol karena dapat berpotensi terhadap penutupan titik cacat. Efek Smearing karena tekanan tinggi sangat mungkin terjadi. Salah satu solusi terhadap kotoran yang bersifat elsatis seperti cat, pernis, minyak, grease, lilin, decal, biasanya digunakan cairan kimia pelarut. Namun tentu akan timbul masalah lain jika larutan sisa tidak dapat dibersihkan karena mengganggu dye penetrant.  Terdapat indikasi beberapa cairan pembersih yang bersifat alkali mempengaruhi dye penetrant jika terdapat konsentrasi silikat di atas 0,5%. Seperti Sodium Silikat, Sodium Metasilikat, dan turunannya yang lebih adhesif terhadap permukaan metal.
Preparasi dengan sodablasting
Proses sodablasting dengan menggunakan media sodium bicarbonate adalah solusi lain yang lebih menjanjikan karena prosesnya yang cepat dan aman. Sodium bicarbonate yang water soluble mudah dibersihkan dari permukaan setelah preparasi selesai. Pengeringan dapat dilakukan dengan dryer biasa. Sodablasting juga mencegah smearing, bahkan terhadap material yang relatif mudah terabrasi.


  • Hubungi Kami

    Office:

    Suradita Residence
    Jl. Chery Blok C5-18
    Suradita Serpong 15310

  • Kotak Info

    Mobile:

    +62 812 8905 3950

    Mail:
    info@metalink.co.id
  • Histats