Tampilkan postingan dengan label NDT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NDT. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2015

Metode Pengujian In-Situ Metalography

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 09.00
Pengujian metallography merupakan metode uji merusak yang sangat berguna dalam mendeteksi kegagalan material. Namun, pengujian mikroskopis ini dapat dilakukan di dalam laboratorium secara terbatas. Beberapa jenis pengujian UTR dalam banyak hal kurang aplikatif karena keterbatasan peralatan yang digunakan.  Dengan uji metallography, perubahan struktur mikro dapat digunakan untuk mengetahui perubahan sifat material yang mengarah pada kegagalan maupun dalam tahap pencapaian standard fase strukturmikro pada suatu material. Pengujian ini terutama sangat berguna untuk mendeteksi kegagalan (Metallurgical damage) seperti creep, perubahan batas butir, grafitasi presipitasi fase sigma, misalnya pada bagian lasan (weldment) material stainless steel (Juan M. SALGADO-LĂ“PEZ; In situ metallography as non-destructive test to analyze the microstructural damage in the petrochemical industry). 

Sumber: Aplikasi Mikro Analisis dan Fraktografi untuk menentukan kualitas produk dan penyebab kerusakan suatu komponen. Ilham Hatta, BPPT



Contoh aplikasi metode ini adalah pengujian pada instalasi Stasiun Pengumpul Gas (SPG) dalam keadaan sedang beroperasi. Pergeseran instalasi terjadi sehingga menyebabkan seluruh pipa yang relatif berdiameter kecil yang mengarah kepada manifold mengalami pembengkokan. Prosedur pengujian In-situ metallographic akan sangat membantu karena tidak diperlukan shutdown, dimulai dengan pemilihan titik-titik pada lokasi yang perlu diuji, yaitu lokasi kritis yang terkena deformasi atau pembengkokan. Pada lokasi atau titik terpilih dilakukan pemolesan dan proses etsa (etching) hingga siap untuk diobservasi dengan menggunakan mikroskop (handy microscope). Setelah struktur mikro benda spesimen terlihat jelas dibawah observasi mikroskop, replika (Microset surface replication) diaplikasikan pada permukaan metallographic. Hal ini dimaksudkan untuk menduplikasi permukaan metallographic pada benda spesimen kepada replika untuk dianalisa atau diobservasi di laboratorium. 

www.ndtcorrosion.com
Pemilihan lokasi pengujian sangat menentukan terhadap keberhasilan metode ini. Karena sifat In-situ metallography yang berupa spot. Pertimbangan terhadap pengaruh lingkungan selama operasi juga harus diteliti, sehingga observasi lebih terarah. Sebagai contoh, sebuah pressure vessel akan dilakukan In-situ metallography pada sambungan lasan antara head dan drum. Karena PV tersebut merupakan tangki bahan bakar yang intermitten terhadap kontak logam, maka akan sangat urgent untuk melakukan pengujian pada bagian dalam pressure vessel. Tentu dengan mempertimbangkan dimensi PV karena akan sangat sulit untuk menjangkau bagian dalam PV.  

Dalam suatu kasus, karena keterbatasan, dilakukan pengujian pada bagian luar PV. Dari hasil PT dan MT tidak ada indikasi cacat pada sambungan head dan drum. Namun dari pengujian In-situ Metallography terlihat ada penjalaran retak mikro. Untuk memperkuat inspeksi, maka akan diperlukan metode uji lain untuk memastikan apakah hasil uji In-situ metallography tersebut benar sebuah retakan atau kesalahan preparasi sample. Misalnya, dengan Radiography atau UT. Tentu hal ini akan berdampak pada operational cost and time.

Adakah kendala atau kelemahan dari metode In-situ metallography? Tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan metode ini sangat variatif tergantung pada tujuan pengujian. Metode ini juga dapat digunakan untuk membantu memperhitungkan umur pakai dalam creep-life assessment. Bahkan dapat memberikan informasi yang lebih unggul dibanding metode NDT lain seperti UT. Permasalahan utama dari metode ini adalah pengambilan sample dapat menjadi inisiator crack, sehingga tidak memungkinkan untuk dapat dilakukan. Pada lokasi atau item - item kritis jauh lebih aman digunakan metode UT. Kelemahan lain dari metode ini adalah pada material yang terpajan gradient temperatur, seperti pada material dengan ketebalan. Karena ada perbedaan struktur mikro oleh pengaruh lingkungan yang berbeda, menyebabkan akurasi sample uji tidak mewakili secara keseluruhan gradient. 

Kamis, 26 Februari 2015

Mengukur ketebalan pipa di dalam tanah dengan metode LRUT

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 11.30
Dari penerapan metode UT, dasar teknologinya adalah memanfaatkan perbedaan kerambatan sinyal ultrasonik terhadap suatu substrat/material. Apakah mungkin, menerapkan metode UT untuk memperoleh citra objek di dalam permukaan tanah. Sebagai contoh, pipa yang ditanam di bawah permukaan. Tentu kita tidak sedang berbicara tentang bagaimana mendeteksi suatu objek tak diketahui di dalam tanah sebgaimana dilakukan oleh para arkeolog. Karena akan banyak hambatan untuk menggunakan sinyal ultrasonik; baik karena sulitnya melakukan coupling antara transmitter/sensor dan media perambatan, kecepatan rambat sinyal yang berbeda tergantung jenis tanah, dan tentu sinyal echo dengan intensitas tinggi sebagai akibat dari hambatan - hambatan tersebut. Akan lebih mudah jika digunakan metode Ground-pentrating Radar (GPR) yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik pada frekuensi UHF/VHF daripada metode UT. 

Aplikasi metode RBI, telah memberikan kontribusi yang luar biasa dalam menekan beberapa pekerjaan yang yang tidak perlu. Sehingga biaya operasional dapat ditekan, yaitu dengan menitik-beratkan inspeksi pada daerah kritis pada jaringan pipa. Metode UT sederhana tidak disarankan untuk proses inspeksi pipa di dalam permukaan tanah. Tetapi digunakan Guided Waves; sinyal ultrasonik dengan frkuensi di bawah 100 kHz yang dirambatkan pada objek mengikuti dimensi ketebalan. Pada titik/daerah kritis yang telah dipilih, inspkesi dilakukan seperti ditunjukkan pada gambar berikut. Gambar a mununjukkan kerja metode UT sederhana dan Gambar b sebagai ilustrasi metode Long Range UT (LRUT). 


Sebuah transduser array dipasang dengan sistem pneumatik/mekanikal pada pipa dalam kondisi kering. Sinyal dirambatkan dengan metode pulse-echo, dari transducer tersebut secara bersamaan dengan sinyal balik yang diterima oleh transducer baik karena batas ujung/dinding material atau karena cacat. Perambatan dapat dilakukan sampai 100 meter (50 - 50 meter) untuk pipa dengan kondisi baik dan tidak banyak variasi geometri (perubahan arah, lubang drain, valve, ventilasi, dll), dan turun menjadi 20 meter untuk pipa yang sudah sangat berkarat. Dengan metode ini, dapat dideteksi cacat sebesar 5% dari luasan atau untuk pipa dengan tipikal dimensi seragam antara 1 - 5% dari luasan area. Selain menggunakan transduser array, beberapa LRUT juga menggunakan transduser dari material jenis piezoelektrik atau magnetostrictive.

Ilustri pemasangan transducer array
  Sejarah penggunaan LRUT awalnya untuk mengukur korosi yang terjadi di bawah permukaan terinsulasi pada aplikasi pabrik petrokimia. Yang kemudian digunakan secara luas untuk inspeksi pipa yang sulit dijangkau dengan menggunakan UT sederhana. Dari hasil analisa LRUT, selanjutnya dapat dihitung RLA (Remaining Life Assessment) berdasarkan standard APIRP574 atau ASME B31.3. Contoh hasil analisa data inspeksi LRUT dapat dilihat pada ilustri di bawah. Kelemahan dari LRUT berhubungan dengan jenis material yang menutupi objek, terutama material yang cenderung attenuative. Sebagai contoh jika pipa dilapisi material coating jenis bitumen/aspal. Selain itu, untuk geometri yang cenderung tidak uniform juga akan menyulitkan analisa data hasil inspeksi. Sehingga dibutuhkan operator yang ahli untuk melakukan inspeksi dengan LRUT. diadaptasi dari www.ndt.net

Kamis, 22 Januari 2015

Pengunaan Eddy current dalam industri sudah umum karena keunggulannya dalam mendeteksi cacat subsurface pada logam yang konduktif, dalam praktis pengujian NDT tradisional yang memanfaatkan sifat elektromagnetis. Dasar dari banyak peralatan NDT (juga pada UT, Radiography, Dye Penetrant) yang memanfaatkan sifat - sifat fisika material. Karena perlakuan yang disyaratkan cukup komplek untuk dapat dihasilkan inspeksi yang akurat, metode - metode tersebut semakin terbatas pemakaiannya seiring dengan kebutuhan industri yang semakin inovatif. BFET (Balanced Field Electromagnetic Technique) adalah teknologi terkini yang bekerja seperti scanner tanpa memerlukan preparasi yang rumit dan kompleks. Batasan BFET dapat digunakan sampai kedalaman permukaan 0,375" atau 9,5 mm dan sudah diaplikasikan untuk inspeksi Tangki, Piping, Tube Stub, Drum, Column, Dryer, Heat Exchanger Shell, dan banyak peralatan industri lain. Metode lain yang mirip dengan BFET adalah ACFM (Alternating current field measurement) yang mengkombinasikan keuntungan dari teknik ACPD (Alternating Current Potential Drop) dan ECT  (Eddy Current Testing). 

Prinsip dasar dari BFET adalah memanfaatkan sinyal elektromagnetik yang dihasilkan oleh coil yang disusun sedemikian rupa pada sumbu x dan z (potensial pada 0 satu sama lain). Coil pada bidang x berfungsi sebagai penghasil sinyal dan coil pada bidang z sebagai sensor penerima menghasilkan fluks yang seragam dan stabil. Seperti terlihat pada gambar, ketika terdapat cacat pada logam, fluks akan terganggu sehingga menghasilkan informasi adanya cacat.



Kelebihan dari sifat elektromagnetik, tidak diperlukan syarat khusus pada permukaan yang akan diinspeksi, baik pada permukaan yang dilapisi cat, epoxy maupun rubber lining misalnya. Karena pada dasarnya sensor probe tidak harus kontak langsung dengan material yang diinspeksi. BFET dapat diaplikasikan sampai dengan 1 ft/sec sepanjang material uji. Sensor probe (Hawk-eye Probe) tipe sederhana mampu mendeteksi sampai kedalaman 0,125" (3 mm), seukuran pensil dan dapat dibentuk (machining) untuk mendapatkan sudut sesuai permukaan material uji. Juga dapat dibuat dari bahan keramik yang memungkinkan untuk inspeksi pada temperatur sampai 500 derajad Fahrenheit (260 derajad celcius).


Sensor Probe juga dapat digunakan secara paralel untuk mendapatkan hasil inspeksi lebih lebar atau pada sisi radial (Piping) dalam satu waktu sepanjang L. Data disajikan secara real-time, memudahkan untuk menandai lokasi cacat. Yang perlu diperhatikan dalam melakukan inspeksi yaitu agar selama pergerakan probe dapat berjalan dengan halus tanpa gangguan. Sehingga desain probe juga sangat penting dalam proses scanning dengan BFET. diadaptasi dari testex-ndt.com.

Hasil Scanning dengan BFET, Cacat diindikasikan dalam 3D Color Display



Selasa, 11 November 2014

Pada sebuah Pabrik Petrokimia di Meksiko yang telah beroperasi selama 30 tahun, telah direncanakan inspeksi terhadap peralatan - peralatan industri yang terpajan oleh temperatur tinggi dan lingkungan yang korosif. Sebagai data kualitatif, diperlukan analisa struktur mikro untuk mengetahui banyak informasi seperti; grafitisasi, degradasi struktur pearlite, creep, dekarburasi, grain growth, korosi intergranular, presipitasi karbida dan presipitasi fase sigma. Karena pada umumnya peralatan di Pabrik Petrokimia dibuat dari bahan Baja Karbon dan Austenitic Stainless Steel

Karena tidak diperkenankan untuk merusak peralatan sebagai sample uji di laboratorium, maka metode pengujian struktur mikro yang mungkin  adalah In-situ Metallography. Percobaan kemudian dilakukan terhadap sebuah pipa yang mengalami kegagalan dan telah diganti. 
Sample maping
Larutan kimia yang digunakan untuk etsa adalah Vilella Reagent. Sample pada Zone 1 dan 2 dianalisa dengan menggunakan metode standard destructive metallography dengan perbesaran 500X. Sedangkan pada Zone A dan B dilakukan analisa In-situ Metallography menggunakan  CIDESI's portable microscope dengan perbesaran 400X. Pendekatan diambil dengan mengabaikan perbedaan perbesaran yang dipilih. Hasil photo struktur mikro dapat dilihat pada gambar di bawah.

Material pipa yang dibuat sebagai sample untuk penelitian telah mengalami reduksi ketebalan sebelum benar - benar terjadi kegagalan. Dengan demikian, struktur mikro pada bagian yang diuji juga terpajan oleh overheating sehingga seolah tampak banyak fase pearlite (bagian gelap). Mengabaikan hal tersebut, pada Zone 1 tampak fase elongated pearlite dan presipitasi karbida pada batas butir, seperti terjadi pada baja yang yang umum mengalami overheating. Pada Zone 2, meskipun dengan keterbatasan perlakuan etsa, tidak ditemukan adanya presipitasi karbida pada batas butir dan juga fase elongated pearlite. Dengan membandingkan pada hasil uji In-situ Metallography, baik pada Zone A maupun B, tidak ditemukan adanya presipitasi karbida. Dan juga, tidak terdapat fase elongated pearlite yang terbentuk. 


Dengan memperhatikan hasil kedua metode pengujian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa secara kualitatif metode In-situ Metallography dapat digunakan untuk menganalisa struktur mikro pada peralatan yang tidak mungkin untuk dibuat sample ujinya dengan metode destructive test. Sehingga, banyak aplikasi di industri yang sudah mengandalkan pengujian In-situ Metallography ini, meskipun dalam beberapa kasus masih harus didukung dengan metode NDT yang lain.
  
Sumber; Juan M. SALGADO-LĂ“PEZ, In situ metallography as non-destructive test to analyze the
microstructural damage in the petrochemical industry, 2011.

Sabtu, 20 September 2014

Radiography Interpreter Level 2 - Training with Indonesia Power

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 09.00



Serpong, Tangerang Selatan. 25 – 30 Agustus 2014

Dalam pengujian tak rusak (UTR) dengan menggunakan RT menghasilkan output sebuah film berupa citra kontur dari material. Karena data yang dihasilkan merupakan proyeksi 2D, maka diperlukan keahlian khusus untuk menerjemahkan data tersebut ke dalam aplikasi yang diinginkan. Pembacaan terhadap cacat dibawah permukaan dan kualitas cacatnya hanya dapat diperoleh dengan metode tersendiri.

Pelatihan dan sertifikasi di selenggarakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang teori dasar dan aplikasi pengujian radiografi untuk dapat melakukan interpretasi film radiografi sesuai dengan kode dan standar yang digunakan. Sehingga peserta dapat memperoleh wawasan mengenai aspek-aspek penting yang harus dipertimbangkan dalam penafsiran film output dari RT.

Pelatihan dilakukan dalam 6 hari dengan sasaran khusus staff ahli dari Indonesia Power. Peserta training diharapkan mampu mengaplikasikan pelatihan radiografi sesuai dengan standar yang berlaku untuk mengevaluasi integritas struktur komponen Pembangkit Listrik Tenaga Uap sehingga keberlangsungan operasi pembangkit daya dapat berjalan lebih optimal.

Permintaan Pelatihan dapat langsung menghubungi kontak METALINK. Baik untuk inhouse maupun open access.

Jumat, 14 Februari 2014

Digital Radiography | Metode UTR Presisi Tinggi

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 21.12

Salah satu aplikasi Radiography Test (RT) sebagai contoh adalah pengujian kualitas propelan yang digunakan pada Motor roket. Untuk acuan tulisan ini kita bisa mengambil referensi penelitian
RT-2013-0713 tentang Analisis Cacat pada Propelan Diameter 100 mm dengan Teknik Radiografi Digital, publikasi oleh LAPAN. 

Propelan yang diuji adalah jenis komposit cetak, dari campuran slurry dengan viskositas tinggi. Sehingga dalam proses pencampuran dan pencetakan terdapat udara yang terjebak dalam campuran material. Hasil propelan mempunyai kualitas yang tidak seragam tergantung kuantitas porositas sepanjang propelan (distributed porosity) dan porositas yang terlokalisasi (clustered porosity). Dan juga dihindari porositas yang berukuran 1/3 tebal propelan.

Untuk mengetahui cacat - cacat tersebut, jenis pengujian yang aplikatif adalah teknik RT. Yang memang dapat digunakan untuk menguji berbagai jenis material. Tidak terbatas pada material logam.
RT memanfaatkan radiasi untuk memeriksa adanya cacat dalam suatu bahan/material. Jenis radiasi yang banyak digunakan adalah radiasi sinar x dan gamma karena merupakan radiasi dengan energi yang besar sehingga mampu mengionisasi media yang dilaluinya.  


Karena kualitas propelan yang signifikan terhadap jumlah cacat porositas, dibutuhkan teknik RT yang presisi. Hal ini didapat dengan Digital RT yang menggunakan media perekam berupa imaging plate. Setelah proses penembakan kemudian dipindai menggunakan scanner dan software khusus untuk memindahkan image hasil RT dari imaging plate ke komputer menjadi bentuk digital. Keuntungan lain teknik Digital RT dibanding RT konvensional adalah dapat mempercepat waktu penyinaran (2-5% dari waktu RT konvensional).

Berikut contoh hasil Digital RT, dari pengujian pada propelan yang menunjukkan cacat porositas. 




Kamis, 13 Februari 2014

Dye Penetrant Test | Prosedur Visual Testing

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 21.45


Proses uji dengan metode DPT memang pada dasarnya adalah pengembangan uji visual. Dengan bantuan material dye penetrant, karena pengamatan visual kadang terbatas oleh sifat optis spesimen atau keterbatasan pengamat. Prinsip yang digunakan adalah memanfaatkan sifat kaplilaritas pada celah kapiler. Sehingga syarat utama pengujian DPT adalah sifat spesimen yang tidak menyerap dye penetrant. Cairan yang telah terhisap dalam celah kapiler kemudian dikuatkan dengan menambah cairan developer yang mempunyai daya kapilaritas yang lebih besar, memunculkan indikasi pada lokasi cacat.

Cara kerja DPT secara standard sebagai berikut:
  • Permukaan yang diperiksa dibersihkan dari kontaminan yang mungkin menyumbat/menutupi celah
  • Permukaan yang bersih dilapisi oleh cairan penetran dalam waktu tertentu agar cairan penetran dapat masuk kedalam celah. Pelapisan dapat dilakukan melalui penyemprotan pengolesan atau pencelupan.
  • Sisa cairan penetran di permukaan yang tidak masuk kedalam celah dibersihkan
  • Permukaan dilapisi developer untuk menyedot ke luar cairan penetran yang berada dalam celah, agar menghasilkan indikasi
  • Permukaan diinspeksi secara visual untuk dideteksi adanya indikasi
  • Benda uji dicuci/dibersihkan, bila perlu diberi perlakuan anti karat
Karena prinsip pengujian yang visual, terdapat dua jenis tipe DPT yang umum digunakan. Yaitu DPT dengan cairan Fluorescent yang membutuhkan paparan sinar ultra violet untuk melakukan inspeksi. Atau tipe Non-fluorescent yang menggunakan warna kontras dan hanya mengandalkan pengamatan visual (mata telanjang).


Jenis cairan DPT juga dapat dibedakan sesuai proses cleaning setelah DPT selesai dilakukan. Jenis pertama dimulai dari yang mudah dibersihkan dengan menggunakan air, atau water washable. Karakter cairan tipe ini memiliki daya penetrasi tinggi, mudah melarutkan zat warna, tetap stabil dalam berbagai kondisi suhu dan kondisi kerja. Terdiri dari minyak untuk penetrasi, zat warna, zat peng-emulsi, dan zat penyetabil. Dengan keuntungan sifat tersebut, tipe water washable adalah yang paling ekonomis untuk digunakan.

Jenis kedua adalah tipe Post Emulsified, yang memisahkan zat emulsi dari cairan penetrant. Zat Emulsi diaplikasikan pada permukaan yang telah diuji dengan sapuan kuas, dan dibilas dengan air seperti pada water washable. Baik yang bersifat lipophilic maupun hydrophilic, walaupun pada umumnya jenis lipophilic sudah ditinggalkan karena keuntungan pada jenis hydrophilic yang sedikit terpengaruh oleh variasi kontak pada pemurkaan uji dan variasi waktu terjadinya proses emulsi. Dengan demikian lebih mudah dalam aplikasi atau pemakaiannya di lapangan.

Tipe lain, solvent removable, yang diaplikasikan pada pengujian dengan dua tahap kerja. Cairan penetrant DPT diaplikasikan seperti biasa, kemudian dilap dengan kain kering untuk melakukan aplikasi tahap kedua dengan solvent. Sehingga pada penggunaan tipe ini sebaiknya untuk inspeksi pada spot yang kecil, karena memang tidak ekonomis terhadap biaya SDM (labour). Dan juga perlu dihindari pemakaian solvent yang berlebihan agar tidak semua penetrant terhisap oleh solvent. Ada tiga jenis tipe solvent removable, berdasarkan titik nyala rendah atau tinggi, atau solvent removable yang tidak dapat terbakar.

Dengan berurutan, contoh aplikasi cairan penetrant di atas adalah, gunakan tipe water washable jika spesimen uji berukuran besar dan tidak mensyaratkan sensitivitas tinggi. Atau gunakan tipe post Emulsified yang lebih sensitif. Dan jika tidak dimungkinkan untuk penggunaan air, maka tipe solvent removable.

Jumat, 07 Februari 2014

Inspeksi terhadap Hasil Lasan

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 21.03
Pelatihan Uji Tak Rusak

Produk Lasan sudah seperti niscaya ada dalam bidang keteknikan atau engineering, dan kemudian jika kita bicara dalam industri konstruksi yang luas. Tetapi berbicara tentang Inspeksi Lasan atau Welding Inspection, tentu tidak kita arahkan pada aplikasi bengkel yang banyak bertebaran di pinggir jalan, di kampung industri. Dan tentu orang teknik akan familiar dengan AWS, CSWIP atau Sertifikasi Welding Inspector BNSP LSP MIGAS. Karena memang pada wilayah terapan khusus inilah kriteria lasan sangat diperhatikan.

Dalam pengujian lasan, walau bagaimana pun akan kembali pada biaya atau cost. Seperti misalnya untuk aplikasi pipa air minum cukup dilakukan Dye Penetrant Test. Untuk spek material carbon steel galvanized pada tekanan aplikatif 3 atm (ukuran 1 inchi, scedhule 40). Bisa jadi tidak aplikatif jika menggunakan UT (Ultrasonic Test), MPI (Magnetic Particle Test), karena secara operasional tidak membutuhkan uji kritikal. Dan cukup dengan uji kebocoran atau Leakage Test dengan Hydrostatic Test sebagai metode pengujian yang utama.

Secara dasar penentuan aplikasi Inspeksi mungkin akan berbeda untuk tiap inspector/engineer, berikut contoh pertimbangan yang perlu diambil sebelum menentukan jenis pengujian yang akan dilakukan:

1. Type Material
2. Ketebalan Material
3. Dimensi, (Tubular atau Plate)
4. Jenis Sambungan
5. Lokasi Kerja terhadap Peralatan (Accessability)
6. Standard dan/atau Code yang diaplikasikan.


Dalam aplikasi perpipaan, beberapa pengujian bertujuan untuk mengetahui kedalaman penetrasi lasan. Dengan faktor pertimbangan di atas, kita bisa ambil mudahnya dilakukan pengujian tak rusak (UTR/NDT). Dapat dipilih metode UT, Radiography atau MPI. Untuk mengetahui lokasi Incomplete Penetration, sebagai pertimbangan dari point 5, mungkin akan membutuhkan biaya yang besar jika dilakukan Radiography, karena memang pengujian ini dasarnya berbiaya tinggi. Namun, Metode Radiography akan baik digunakan pada beberapa sambungan pipa bawah tanah yang bekerja pada tekanan tinggi mengacu pada ASME/API. Atau pada aplikasi sambungan pipe-to-fitting yang memang akan lebih mudah menggunakan metode Radiography.

Pemakaian UT terlihat menjanjikan untuk mengetahui cacat dalam seperti Incomplete Penetration. Karena mudah dan dapat diketahui letak kedalamannya. Sebagai alternatif untuk material ferromagnetic seperti baja, MPI bisa dimanfaatkan.  

Selasa, 14 Januari 2014

Pelatihan Ketrampilan UTR | PT Indonesia Power UB PLTU Suralaya

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 15.10

16 - 19 Desember 2013, Hotel Ruba Grha, Yogyakarta.

Metode Uji Tak Rusak sudah sangat dikenal handal untuk melakukan inspeksi dan luas dalam aplikasi. Memahami kebutuhan perusahaan akan ahli UTR, PT Indonesia Power UB PLTU Suralaya berinisiatif untuk memberikan ketrampilan UTR tersebut kepada personel di UB PLTU Suralaya. Diharapkan, pelatihan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan peserta training tentang metoda UTR (NDT) serta aplikasinya dalam mengevaluasi keselamatan sistem instalasi pembangkit listrik tenaga uap.
Urgensi ketrampilan bagi personel mendorong PT Indonesia Power UB PLTU Suralaya menargetkan peserta training mampu mengaplikasikan metoda-metoda UTR untuk mengevaluasi integritas struktur komponen Pembangkit Listrik Tenaga Uap sehingga keberlangsungan operasi pembangkit daya dapat berjalan lebih optimal. 
Materi pelatihan utamanya akan menyampaikan secara garis besar metode pengujian UTR serta dasar dasar metalurgi dengan diikuti oleh peragaan penggunaan alat serta cara membaca hasil pengujian UTR (Radiografi, Ultrasonik serta in situ metallography). Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta dapat mendapatkan gambaran cara mengevaluasi data hasil pengujian untuk mendukung analisis kegagalan material. Narasumber dalam training ini berasal dari para peneliti dan orang lapangan Badan Tenaga Nuklir Nasional.
Jadwal Kegiatan 2 hari pertama
Materi yang diberikan dalam Pelatihan:
1. Metalurgi Dasar
2. Pengenalan UTR
3. Materi UTR | Dye Penetrant (Praktek)
4. Materi UTR | UT (Pembacaan hasil test)
5. Materi UTR | Radiografi (Pembacaan hasil test)
6. Materi UTR | In Situ Metalografi (Pembacaan hasil test)
7. Materi UTR | Magnetic Test (Praktek)
8. Diskusi UTR | Studi Kasus UB PLTU Suralaya 



Minggu, 15 Desember 2013


Jakarta (29/10/13); Non Destructive Test (NDT) atau Uji Tak Rusak telah lama dilaksanakan penelitian dan pengembangannya di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sejak tahun 1973 khususnya di bidang NDT radiografi. Tahun 90an NDT sudah mulai digunakan secara luas di Indonesia khususnya di bidang industri, demikian disampaikan oleh Kepala Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR) BATAN Hendig Winarno saat membuka Seminar sehari Advanced NDT Computed Radiography.

Selanjutnya Hendig mengatakan perkembangan teknologi NDT dari konvensional ke advanced NDT saat ini sedang berlangsung, di Indonesia sendiri praktis baru dua perusahaan menggunakan teknologi advanced NDT sehingga prospek teknologi baru ini di Indonesia sangat baik ke depannya.

Bertempat di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Selasa (29/10/2013), seminar diselenggarakan oleh PATIR bekerjasama dengan PT. NDT Instruments Indonesia. Dihadiri oleh para praktisi NDT baik dari lembaga penelitian seperti BATAN, BPPT dan beberapa kementerian, juga dari perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang NDT khususnya anggota Asosiasi Uji Tak Rusak Indonesia (AUTRI).

Pakar NDT dari Durr NDT Jerman Hans – Ulrich Pohler dalam pemaparannya menyebutkan beberapa kelebihan teknologi advanced NDT ini dibandingkan dengan NDT konvensional baik dari sisi eksposur, proses, hingga visualisasi. Kelebihan utamanya adalah hasil analisa yang lebih detail, real time dan computerized dibandingkan dengan teknologi konvensional yang masih bersifat analog. Meskipun bersifat computerized, hasil gambar advanced NDT memiliki format khusus yang tidak dapat dimanipulasi menggunakan software pemroses gambar seperti photoshop atau corel draw.

Sementara itu dari sisi SDM, saat ini menurut Ketua Lembaga Sertifikasi Personel Uji Tak Rusak (LSP-UTR) Renaningsih Setjo, Indonesia baru memiliki sekitar 60 orang personel yang sudah memiliki sertifikasi level 3, sedangkan perusahaan yang bergerak di bidang NDT sekitar 180 perusahaan, Indonesia masih membutuhkan banyak expert di bidang NDT, selanjutnya jika menghadapi pasar bebas maka dikhawatirkan kita akan kalah bersaing dengan tenaga-tenaga ahli dari luar negeri.

Di Indonesia sendiri sertifikasi NDT masih belum satu payung karena sertifikasi masih dikeluarkan oleh berbagai lembaga, idealnya sertifikasi bagi personel NDT hanya dikeluarkan satu lembaga nasional dan memiliki satu skema, mengacu pada ISO 9712, EN 473 dan CP 106. (eph)

Jumat, 12 Juli 2013

Dye Penetrant Inspection | Preparasi sample

Diangkat oleh Aminudin Zuhri pada 11.06
Penggunaan dye penetrant dalam inspeksi NDT dipengaruhi oleh gaya adhesi pada permukaan metal atau sample terhadap dye penetrant. Sehingga persiapan sebelum aplikasi dye penetrant sangat kritikal. Semua Coating atau lapisan pasif harus dihilangkan dari permukaan untuk membuka bagian cacat terhadap masuknya dye penetrant. Misalnya; Cat, Pernis, Lapisan logam (debris, flux, scale, plating) dan Lapisan oksida (rust, fluid) yang berpotensi menutup titik - titik cacat.
Substrat sebelum preparasi dilakukan
Aplikasi atau penggunaan sandblasting atau sanding harus dikontrol karena dapat berpotensi terhadap penutupan titik cacat. Efek Smearing karena tekanan tinggi sangat mungkin terjadi. Salah satu solusi terhadap kotoran yang bersifat elsatis seperti cat, pernis, minyak, grease, lilin, decal, biasanya digunakan cairan kimia pelarut. Namun tentu akan timbul masalah lain jika larutan sisa tidak dapat dibersihkan karena mengganggu dye penetrant.  Terdapat indikasi beberapa cairan pembersih yang bersifat alkali mempengaruhi dye penetrant jika terdapat konsentrasi silikat di atas 0,5%. Seperti Sodium Silikat, Sodium Metasilikat, dan turunannya yang lebih adhesif terhadap permukaan metal.
Preparasi dengan sodablasting
Proses sodablasting dengan menggunakan media sodium bicarbonate adalah solusi lain yang lebih menjanjikan karena prosesnya yang cepat dan aman. Sodium bicarbonate yang water soluble mudah dibersihkan dari permukaan setelah preparasi selesai. Pengeringan dapat dilakukan dengan dryer biasa. Sodablasting juga mencegah smearing, bahkan terhadap material yang relatif mudah terabrasi.


Minggu, 07 Juli 2013

Jakarta, 30 Oktober 2012
UJI TIDAK MERUSAK (NON DESTRUCTIVE TEST /NDT)
UNTUK MENINGKATKAN KESELAMATAN, KEANDALAN & PRODUKTIVITAS



Yang terhormat:
Kepala BATAN, dan Jajarannya.
Kepala  BPKIMI (Ir. Aryanto Sagala)
Dirjen IUBTT (Dr. Budi Darmadi)
Dewan Riset Nasional (Prof Dr. Ir. Bambang Sunendar)
Ketua Apitindo
Para Pejabat Eselon 1 dan 2
Undangan dan Hadirin yang saya muliakan,

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.


Pertama-tama, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji syukur kehadirat Illahi Rabbi, Allah SWT, yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya hingga pada hari ini kita semua dapat menghadiri acara Seminar dan pameran perkembangan teknologi Uji Tidak Merusak (Non Destructive Test /NDT) untuk meningkatkan keselamatan, Keandalan & Produktivitas

Hadirin yang saya hormati,
Uji tak merusak atau Non-destruktive Test (NDT) adalah teknik analisis yang digunakan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi industri untuk mengevaluasi sifat dari komponen, material atau sistem, tanpa menyebabkan kerusakan.

Pada dasarnya pemakaian teknologi, digunakan untuk meningkatkan keselamatan, Keandalan & Produktivitas, begitupun halnya dengan penggunaan teknologi NDT.

Hadirin yang saya muliakan,
Apabila kita menargetkan mengangkat Indonesia menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia di tahun 2025. Indonesia memerlukan suatu transformasi ekonomi berupa percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan”. Untuk itu pemerintah telah mengeluarkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang didasari oleh semangat not business as usual, dan melibatkan seluruh stakeholder.

Melalui Perpres No. 32 tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, telah menetapkan Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan 3 (tiga) elemen utama yaitu: (1) mengembangkan potensi ekonomi wilayah di 6 (enam) Koridor Ekonomi Indonesia, (slide no.13,14).yaitu: Koridor Ekonomi Sumatera, Koridor Ekonomi Jawa, Koridor Ekonomi Kalimantan, Koridor Ekonomi Sulawesi, Koridor Ekonomi Bali–Nusa Tenggara, dan Koridor Ekonomi Papua–Kepulauan Maluku; (2) memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara global (locally integrated, globally connected); (3) memperkuat kemampuan SDM dan Iptek nasional untuk mendukung pengembangan program utama di setiap Koridor Ekonomi. Pilar ketiga (3) yakni memperkuat kemampuan SDM  dan Iptek dapat menjadi cara untuk meningkatkan kualitas produk nasional sehingga produk dalam negri dapat bersaing dengan produk – produk dari luar dan mendorong masyarakat kita untuk lebih mencintai produk nasional.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Tiga tahun lagi kita memasuki era komunitas ASEAN 2015 “Asean community 2015”. Pertanyaannya Sudah siapkah kita khususnya NDT Indonesia menghadapai era Masyarakat ASEAN 2015?

Ada 6 (enam) hal yang harus disiapkan/dibangun oleh para pemangku kepentingan khususnya pemanagku kepentingaan NDT Indonesia yaitu:
1.    Harmonisasi Skema sertifikasi personel
2.    SDM
3.    Teknologi, Peralatan & Standarisasi
4.    Kelembagaan
a.    Litbang
b.    Pendidikan, Pelatihan & Sertifikasi
c.    Bisnis – Perusahaan /Inspeksi
d.    Profesi
5.    Kebijakan & Regulasi
6.    Sinergi pemangku kepentingan

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Harmonisasi skema kualifikasi & sertifikasi personil yang mengacu kepada SNI ISO 9712 dan ISO 17024:2003 merupakan suatu hal penting agar tercapai kesetaraan kemampuan dan saling pengakuan terhadap personil dari semua negara pada masing masing kawasan. Sebagai Negara terbesar di ASEAN, kita perlu mengupayakan harmonisasi yang dapat dimulai di lingkup ASEAN. Keberhasilan harmonisasi di lingkup ASEAN dapat menyumbang upaya peningkatan integrasi ASEAN sekaligus mempermudah upaya pengakuan internasional.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Di era kompetisi saat ini, daya saing suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang menguasai Iptek. Hal ini ditekankan dalam UU No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, bahwa pembangunan ekonomi diarahkan kepada peningkatan daya saing dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy). Dalam hal ini, maka penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Ilmu Pengetahuan serta Teknologi (Iptek) merupakan salah satu pilar penting untuk mewujudkan hal tersebut sehingga kita bersama-sama harus mendorong proses peningkatan kualitas SDM dan Iptek ini.

Data saat ini menunjukan bahwa jumlah personil NDT di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan jumlah penduduk. Untuk itu pihak pemerintah terus meningkatkan kerja sama dengan swasta melakukan upaya yang berkesinambungan dan sistematis dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di bidang penguasaan teknologi. Program peningkatan tersebut diupayakan sebagai bagian dari program peningkatan sumber daya nasional.

Khusus untuk teknologi NDT, meskipun sudah dikenal di Indonesia sejak tahun 70-an, tampaknya asosiasi profesi NDT dalam hal ini Asosiasi Uji Tak Rusak Indonesia (AUTRI), Lembaga Riset BATAN, BPPT, LIPI, Lembaga teknis Balai Besar Bahan dan Barang Teknik Kementerian Perindustrian dan Perguruan TInggi harus lebih meningkatkan program-program kegiatannya agar peran dan fungsi teknologi NDT lebih bisa dikenal dan difahami oleh masyarakat. 

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Perkembangan teknologi NDT tidak bisa terlepas dari perkembangan teknologi secara umum, dengan kata kunci “digitalisasi”, “otomatisasi” & “online monitoring”.  Kini Uji Tak Merusak (NDT) sudah berkembang pesat ke arah integrasi berbagai metode, digitalisasi, otomatisasi dan online monitoring yang kemudian dikenal dengan nama “Advanced NDT” untuk memecahkan masalah/menguji material baik dalam proses pembuatan, konstruksi maupun perawatan di instalasi yang sedang beroperasi. Pihak industri merupakan pengguna utama teknologi NDT yang disesuaikan dengan kebutuhan. Saat ini peralatan NDT lebih merupakan teknologi hasil produk bangsa lain. Dimasa mendatang, penguasaan teknologi “advanced NDT” menjadi tantangan bangsa ini. Lembaga riset dan universitas harus menjadi bagian terdepan dalam melakukan inovasi teknologi NDT.  Pemerintah dan pihak swasta harus bersinergi dalam upaya melakukan inovasi di bidang teknologi NDT.  Asosiasi profesi harus mampu menjadi jembatan penghubung berbagai pemegang kepentingan seperti pemerintah, lembaga riset, universitas dan industri dalam menerapkan dan memasyarakatkan teknologi terkini di bidang NDT.  Selanjutnya, penciptaan teknologi NDT terkini memungkinkan Indonesia mampu membuat standar nasional di bidang NDT sendiri, yang saat ini masih mengadopsi standar-standar internasional.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Sebagaimana kita sadari bersama, salah satu faktor penting dalam membangun sesuatu yaitu kelembagaan. Pemerintah melalui lembaga riset dan perguruan tinggi mempunyai peran yang signifikan dalam upaya penguasaan, pengembangan dan pemanfaatan teknologi baru serta inovasi teknologi. Sebagaimana kita ketahui bersama, pemerintah melakukan investasi untuk hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan nasional, padat modal, teknologi baru tetapi tidak layak secara ekonomi namun sangat dibutuhkan di tingkat nasional. Sebagai contoh peralatan advanced NDT seperti acoustic emission, digital radiography, computed tomography dan netrongrafi harganya mahal dan belum ekonomis bagi perusahaan swasta tetapi ditinjau dari sudut pengembangan, penguasaan dan pemanfaatan teknologi baru sangat dibutuhkan untuk negara kita. Kita harus bisa membangun pusat-pusat unggulan teknologi NDT baik di lembaga riset maupun perguruan tinggi. Disamping itu kita juga harus bisa membangun pusat pusat pengujian material yang sangat dibutuhkan di era kini yang mengutamakan mutu barang.

Dalam pengembangan SDM, tentunya pembangunan kelembagaan pelatihan NDT dan sertifikasi NDT yang mengacu kepada SNI dan ISO sangat penting agar SDM yang dihasilkan dari lembaga pelatihan NDT memiliki pengetahuan dan keahlian yang cukup dan sesuai dengan kualifikasinya. Lembaga Sertikasi Personel NDT (LSP-UTR) yang sudah berdiri sejak tahun 2010 perlu segera diupayakan untuk memperoleh pengakuan internasional. Pengakuan internasional terhadap LSP-UTR akan mendorong tumbuhnya lembaga-lembaga pelatihan dan Tempat Ujian Kompetensi (TUK) yang sesuai dengan SNI & ISO dan tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia.

Perusahaan swasta dalam hal ini perusahaan NDT/inspeksi memiliki peran yang penting dalam penyediaan jasa NDT/inspeksi kepada para pengguna akhir. Kebijakan dan regulasi pemerintah yang mengutamakan produksi dan jasa dalam negeri tentunya dapat mendorong perusahaan swasta dalam negeri menguasai pasar dalam negeri bahkan diharapkan dapat berkiprah di lingkup ASEAN.

Sebagaimana kita ketahui bersama, asosiasi profesi di Indonesia pada umumnya belum profesional dan mandiri padahal asosiasi profesi seharusnya seperti di Negara maju yang memiliki peranan penting dalam pengembangan profesi, promosi teknologi, pengembangan standarisasi, sertifikasi profesi, pengembangan SDM dan pengembangan teknologi. Saatnya kita sebagai pemangku kepentingan NDT bergotongroyong untuk mewujudkan Asosiasi Profesi dalam hal ini Asosiasi Uji Tak Rusak Indonesia (AUTRI) menjadi asosiasi profesi yang profesional dan kredibel seperti American society for NDT (ASNT), BINDT dsb.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Salah satu faktor yang juga memiliki peranan penting yaitu kebijakan & regulasi. Di bidang penelitian, kita memiliki kebijakan dan regulasi insentif pajak bagi perusahaan yang melakukan kegiatan penelitian dalam bentuk pengurangan pajak; di bidang pengadaan barang dan jasa, kita memiliki kebijakan dan regulasi mengutamakan penggunaan komponen dalam negeri - TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri). Dengan kebijakan dan regulasi tersebut diharapkan dapat mendorong inovasi teknologi nasional dan peningkatan penggunaan produksi dalam negeri yang pada gilirannya akan berdampak kepada ekonomi nasional. 

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Di bagian akhir sambutan ini, saya ingin menyampaikan pentingnya “sinergi” dalam membangun NDT Indonesia Sudah saatnya para pemangku kepentingan NDT yang terdiri dari Lembaga Riset, Perguruan Tinggi, Lembaga pelatihan, Regulator/teknis, Asosiasi Profesi, Perusahaan NDT/Inspeksi, Pengguna dan Pemasok berkolaborasi untuk berbagi peran dalam membangun NDT Indonesia agar kita dalam jangka pendek 2 tahun dapat memiliki Lembaga Sertifikasi Personel yang diakui dunia internasional dan dalam jangka waktu 5 hingga 10 tahun ke depan mampu swasembada di bidang jasa teknologi dan peralatan Advanced NDT. Keberhasilan kita dalam swasembada teknologi NDT tentunya akan dapat meningkatkan daya saing Indonesia di era “Asean Community” yang akan mulai tahun 2015. Kolaborasi asosiasi profesi AUTRI, lembaga riset BATAN dan lembaga teknis B4T – kementerian perindustrian dalam penyelenggaraan Indonesia NDT EXPO dan Seminar Nasional NDT yang disponsori oleh perusahaan swasta merupakan contoh sinergi pemangku kepentingan NDT.

Hadirin yang saya muliakan,
Demikian sambutan dari saya, dengan mengucapkan Bismillahirrohmannirrohim, Seminar Nasional NDT 2012 dan Indonesia NDT EXPO 2012 dengan resmi dibuka.

Billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Menteri Negara Riset Dan Teknologi
Gusti Muhammad Hatta
  • Hubungi Kami

    Office:

    Suradita Residence
    Jl. Chery Blok C5-18
    Suradita Serpong 15310

  • Kotak Info

    Mobile:

    +62 812 8905 3950

    Mail:
    info@metalink.co.id
  • Histats